문화칼럼

  • Home
  • 인도네시아 알기
  • 문화칼럼
제목 Kuliah Umum di Universitas Goethe Fankfurt tentang Pemikiran Pak Pram
작성자 인도네사아문화원
작성일 17-07-12 04:08

 

Saya memberi kuliah umum di Universitas Goethe, Fankfurt hari ini. Saya membicarakan <Pemikiran Pramoedya Ananta Toer yang Tersirat dalam haasil-hail karya Novelnya>.  Setelah memberi kuliah , ada juga sesi tanya jawab yang menarik. Inti kuliahya seperti berikut.

 

A. Teeuw pernah mengungkapkan bahwa Pramoedya merupakan penulis yang muncul hanya sekali dalam satu generasi, atau malah dalam satu abad. Ini bermaksud bahwa Pramoedya adalah salah seorang sastrawan yang berkedudukan tinggi dalam dunia sastera Indonesia. Di antara karya-karya sastra Indonesia, barangkali karya-karya sastra yang dihasilkan oleh Pramoedya merupakan karya yang paling banyak diterjemahkan dalam bahasa-bahasa asing di luar negara Indonesia. Justru hakikat inilah yang membuat Pramoedya sebagai novelis Indonesia yang terkenal juga dalam arena sastra internasional. Di samping itu, jejak kehidupan Pramoedya yang bersengsara pada masa yang dulu pula mengambil perhatian golongan pembaca di luar negara.

 

Pramoedya memaparkan pemikirannya dalam hasil-hasil karnya novelnya antara lain tetralogi Bumi Manusia, Keluarga Gerilya, dan Perburuan. Dalam karya-karya tersebut, terdapat tanggapan Pramoedya terhadap nasionalisme, khazanah budaya bangsa, pemberontakan terhadap kuasa kolonial, dan humanisme. Dapat dikatakan bahwa humanisme merupakan benang merah yang mengikat pemikiran Prmoedya. Sebagai salah seorang penulis yang memberi perhatian khusus kepada sejarah Indonesia, Pramoedya bermaksud mentafsirkan sejarah bangsanya dengan pandangan sendiri. Oleh yang demikian sejarah merupakan satu rujukan yang berguna baginya. Dalam pada itu, betul terjadi kesalahpahaman pihak pemerintah Orde Baru dan beberapa kritikus sastra terhadap dunia pengkaryaan Pramoedya. Maka, pembahasan kritikus yang nyasar dan tidak waras terhadap hasil karyanya memberi dalih kepada pemerintah Indonesia supaya melarang beredar buku-buku Pramoedya di Indonesia. Misalnya saja perjuangan nenek moyang Indonesia dianggap mereka sebagai gerakan subversif.

 

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa Pramoedya mengembara dari dunia kekecewaan ke dunia harapan. Baginya, dunia kekecewaan adalah dunia kenyataan yang menjadi halangan, sedangkan dunia harapan adalah dunia impian yang memberi hasrat atau semangat rakyat dan bangsanya sendiri. Kedua dunia yang bertentangan ini membuat Pramoedya merasa sengsara, dan sekaligus memberinya semangat untuk melawan kesengsaraan itu. “Dunia nyata dan dunia rekaan selalu berjalin kelindan, yang satu tidak bermakna tanpa yang lain.” Dunia rekaan Pramoedya adalah satu mimpi yang dijelmakan untuk memenuhi keinginan (Wunschtraum), yaitu penjelmaan pahaman humanisme di samping dapat memajukan bangsanya dengan menolak warisan-warisan kultur yang melemahkan semangat perjuangan untuk mensejahterakan bangsa.
 

바로가기